Ketika semua orang dihebohkan dengan pemilihan calon-calon pemimpin baru, apakah itu presiden, walikota, pak RT baru atau mungkin calon presiden mahasiswa baru di kampus-kampus, maka kita pun kadang terbawa dengan isu-isu dan kabar burung yang ada, mulai dari isu kalo calon pernah memalsukan ijazah waktu SMA dulu, isu kalo calon punya ayan (#ngeeek), sampe isu kalo si calon ternyata kasep pisan atau apalah itu..
Tapi yang jelas, saya banyak melihat tipe-tipe orang dalam menghadapi pemilihan raya atau pemilihan umum ini.. Ada yang aneh. Ada juga yang memang sering kita lihat. Kalo berdasarkan pelajaran Kewarganegaraan ada tiga tipe orang dalam menentukan pilihannya: yang pertama itu saya lupa, yang kedua juga sama (lupa), nah tipe ketiga itu kalo ga salah orang yang apatis, atau sama sekali gak mau tau.
Kalo orang-orang berikut ini,, adalah perluasan dari tipe-tipe yang ada dalam buku Kewarganegaraan, atau mungkin bisa dibilang contoh nyatanya.. Lalu, termasuk tipe pemilih yang manakah kita?
1)Tipe “saya bantu ya, tapi maaf gak saya pilih”. Orang seperti ini adalah orang yang sudah dipercaya untuk menjadi kader-kader pendukung oleh salah satu calon pemimpin, tapi ditengah jalan ia mengalami kegalauan, karena kandidat yang lain ternyata berasal dari daerah yang sama, atau ternyata lebih ganteng, atau ternyata dia adalah anak temannya saudara laki-laki dari kakak sepupunya tetangga nenek salah satu teman. (yah itulahh). Tipe orang yang satu ini adalah tipe orang galau yang baik hati, karena ia dengan senang hati mendukung salah satu calon yang memintanya menjadi tim sukses walaupun pada akhirnya ia gak akan mendukung orang itu.
Cara menghadapi: Sabar dan berlapangdada lah para calon yang memintanya menjadi tim sukses.
2) Tipe “kamu senyum, aku coblos”. Nah kalo tipe yang satu ini adalah tipe orang yang cukup aneh. Salah satu sebab ia melakukan tindakan seperti ini karena mungkin dia ga kenal dengan semua kandidat pemimpin yang dicalonkan. Orang ini biasanya gak pernah ikut atau lihat acara debat dan diskusi dengan para kandidat.. atau mungkin dia cuma numpang lewat aja ketika acara-acara itu sedang berlangsung. Dapet leaflet berisi profil calon, dan visi misi mereka, terus langsung dimasukin ke dalam tas dan hanya dipandang-pandang dengan tidak seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, lebih singkat dari bikin naskah proklamasi. Males bacanya, panjang banget, dan gak menarik. Abis Cuma pake kertas item putih. Bisa makin burem mata saya. Haha alasan! Bilang aja emang males baca! Nah saat detik-detik dia harus membuat keputusan dan pilihan untuk salah satu calon yang semuanya tidak ia kenal, maka orang ajaib ini pun berkata “pokoknya kalo nanti tuh orang fotonya senyum ke gue, tuh orang bakalan langsung gue coblos fotonya”. Maka ia akan mengamati baik-baik foto para kandidat yang ada di kertas suara. Sesangar dan seserem apapun orang itu, asalkan fotonya sambil senyum, pasti calon itu akan dipilih sama orang tipe “kamu senyum, aku coblos” ini.
Cara menghadapi: kalian para calon pemimpin harus mengetahui selera pasar, eh maksudnya selera pemilih, salah satunya dengan menentukan gaya foto kamu, jangan resmi dan tegang-tegang amat, seperti orang nahan ehm sorry, “BAB waktu lagi ujian”.. (haha), foto lah senyaman, setenang, dan seganteng atau secantik mungkin, dan jangan lupa senyum yang manis! Ga perlu senyum tiga jari juga kaliiiii! Lebay!!! ..... Anggap aja dengan senyum itu kamu ibadah, kamu senyumin orang-orang yang memilih kamu dan kamu senyumin orang-orang yang males ngeliat senyuman kamu itu :-)
3) Tipe “kamu kasih aku pilih”. Tipe ini biasanya ibu-ibu yang cuma dikasih kerudung aja bisa langsung memutuskan untuk memilih calon yang memberi bingkisan sederhana itu, atau bapak-bapak yang dengan rasa senang dan riang hati mendapat kaos bergambarkan foto calon kandidat dengan pose tersenyum sambil menunjukkan jari jempol besar mereka dan seolah-olah berkata “hey.. aku oke kan!!!” (o,o’).. dan pastinya semua bingkisan itu tidak diberikan dengan cuma-cuma dong saudara saudara.. karena para kandidat itu pasti mengharapkan semua ibu-ibu dan bapak-bapak yang mendapatkan bingkisan darinya akan tertarik dan dengan senang hati akan merelakan segenap tenaganya untuk mencoblos foto si kandidat di kertas suara, gak peduli senorak dan semenor apapun dandanan kandidat tersebut, dan gak mau tau juga seperti apa nanti kalau orang itu sukses menjadi pemimpin yang terpilih, karena bagi mereka sehelai kerudung dan sebuntelan kaos(haha, bahasa apa ini, buntelan???) lebih penting untuk saat itu, dibandingkan dengan apa jadinya hidup mereka nanti, dimasa yang akan datang kelak (asiikk dah) setelah si tukang sogok itu terpiih. Guru saya juga pernah bercerita, di tempat tinggalnya pada saat sedang marak pemilihan umum, sering ada oknum-oknum kandidat yang biasanya melakukan serangan fajar, bukan! mereka bukan ngajakin perang pagi-pagi buta.. tapi mereka memanfaatkan pagi hari tepat disaat hari H pencoblosan dengan menyalurkan sogokan-sogokan berupa beras 5 kilo saja saudara-saudara!!!.. beras 5 kilo ini mungkin cukup berguna bagi mereka yang sangat membutuhkan. Tapi dari caranya itu, sebenarnya bisa kita lihat seperti apa watak para kandidat yang memanfaatkan keadaan dan kesusahan orang lain hanya untuk mendapat simpati dan tentunya mendapat “coblosan cinta 5 kilo beras” ini pada kertas-kertas suara mereka.. Yang akan membuat mereka tertawa bahagia.
Cara menghadapi: Hey para ibu-ibu dan bapak-bapak, tinggikanlah standar sogokan kalian. Jangan mau disuruh pilih, kalo cuma dikasih kerudung, kaos oblong foto jempol kaki si calon atau jangan mau hanya dengan beras 5 kilo doang, mintalah sekontainer, lumayan buat jatah anak cucu sampe turunan ke-8., hehe. Kecuali ya, kalo para calon itu memberikan kalian apartemen mewah atau mobil BMW serie terbaru.. Hoalah (gak bener juga ini!!!) yang jelas tinggikan standar kalian! buka wawasan selebar-lebarnya, karena para kandidat itu pun pasti akan berfikir jutaan kali kalo harus memberikan apartemen atau BMW untuk ibu-ibu + bapak-bapak sekampung..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar